Jul
12
2009

Disiplin dan Hoki (Discipline and Luck) – Bagian 2

Pemasaran Mandiri: Produk yang Terbaik Menang

Salah satu perusahaan rokok terbesar ke tiga di Surabaya dimulai dari seorang perokok sejati yang membuat lintingan rokok kretek yang terbaik. Sang pemilik tidak pernah berpikir bahwa rokok lintingannya yang di buat dengan hati, cita rasa dan konsistensi yang tinggi akan menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Saya tidak mengajurkan pembaca untuk merokok, bilamana bisa, harus di usahakan untuk segera berhenti merokok demi kesehatan anda.

PERINGATAN PEMERINTAH: “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”

Demikian juga dengan industri rumahan yang membuat kue kue basah seperti lemper, kue pisang, kue sus dan lain lain. Mengapa ada beberapa industri kue kue basah rumahan menjadi lebih besar dari pada yang lainnya? Mengapa Nasi Goreng Kumis di suatu daerah di Jakarta Barat dapat menjadi demikian populer? Mengapa Sop Kaki Kambing di suatu pusat kota Bandung menjadi antrian begitu banyak orang? Bermacam macam alasan yang kita bisa kemukakan, diantaranya yang paling umum adalah: “kerja keras” dan “keseriusan”.

Faktor disiplin dan kerja keras

Kerja keras dan keseriusan memang menjadi modal utama tetapi bukan yang terakhir. Kerja keras dan keseriusan melahirkan produk yang handal, berkualitas, konsisten, rapih, ergonomik dan enak (jika itu adalah makanan). Jika saya analogikan, maka kerja keras dan keseriusan adalah “Daya Pikat”, “Daya Tarik” dan “Daya Bius”.

Sop Kaki Kambing di suatu jalan di Bandung.

Saya terkesan dengan ramainya Sop Kaki Kambing di salah satu jalan di pusat kota Bandung dan saya ingin tahu apa rahasia sukses mereka ini.

Antrian demikian panjangnya sehingga saya harus antri sekitar 15 menit untuk hanya memesan saja. Akhirnya sang Abang mengabil pesanan saya, “Tulang muda dan tanpa minyak samin ya…”.

Setelah menunggu 30 menit datanglah sop yang panas dan menggugah selera itu. Demikian ramainya pengunjung pesanan saya datang dengan tepat dan pada waktu di sajikan, sang pengantar menyebutkan “tulang muda dan tanpa miniyak samin”.

Cita rasa sop yang enak dan konsisten di tambah lagi lapar pengunjung di junjung tinggi dengan tidak salahnya pesanan yang datang setelah menunggu 30 menit di tengah ramainya pengunjung.

Dari semua itu, jika Sop Kaki Kambing ini hanya mengandalkan “Daya Pikat”, “Daya Tarik” dan “Daya Bius” mungkin mereka tidak akan mendapatkan tempat dagang yang strategis di tengah kota Bandung yang dilalui oleh konsumen yang memiliki daya beli tinggi.

Apa itu “Daya Pikat”, “Daya Tarik” dan “Daya Bius”?

“Daya Pikat”, “Daya Tarik” dan “Daya Bius” adalah penyederhanaan dari AIDA (Attractiveness, Interest, Desire and Action). Suatu produk yang memiliki “Daya Pikat” yang tinggi akan dengan cepat di lirik oleh calon konsumen, jika “Daya Pikat” ini demikian tinggi maka sang calon konsumen ini akan mulai menarik (Daya Tarik) untuk mendekat atau mencoba produk tersebut. Setelah mencoba produk tersebut maka terbius lah (Daya Bius) sang konsumen tersebut dengan membeli produk anda berulang ulang (repeat buyer).

Tetapi kehebatan dari “Daya Pikat”, “Daya Tarik” dan “Daya Bius” produk tersebut bukan hanya dimiliki oleh satu orang saja. Saya banyak melihat banyak sekali orang yang memiliki produk yang luar biasa (killer product) tetapi tidak berhasil menjual produknya.

Pentingnya “Daya Jangkau” atau pemasaran.

Operator GSM dan CDMA di Indonesia boleh saja memberikan bonus bonus insentif yang memukau, tetapi jika tidak didukung oleh jaringan seluler yang baik, bonus bonus insentif tersebut tidak akan berarti banyak. Demikian pula dengan Siti gadis desa yang menurut orang banyak bahkan lebih cantik dari Luna Maya, tetapi jika tidak ada seorang promotor atau pencari bakat yang menemukan Siti pada akhirnya kecantikannya hanya berakhir menjadi istri seorang pemuda desa yang baik hati.

Faktor hoki atau luck dan kesempatan.

Pada intinya “Daya Pikat”, “Daya Tarik” dan “Daya Bius” yang luar biasa dari suatu produk tidak banyak berarti tanpa ada nya “Daya Jangkau”.

Kembali ke tulisan saya diatas bahwa “kerja keras dan keseriusan memang menjadi modal utama tetapi bukan yang terakhir”. Faktor disiplin dan kerja keras menentukan sikap hati, tekad dan tujuan, tetapi faktor hoki atau luck dan kesempatan yang menentukan hasil akhir. Kesempatan untuk mendapatkan lokasi strategis untuk berdagang, sumber daya manusia yang tepat dan cakap, keadaan keuangan untuk bertahan dengan produk terbaik yang anda miliki tidak dapat dicari dengan kerja keras dan keseriusan.

Semoga kita semua di berikan kesempatan yang sama.

>> Disiplin dan Hoki (Discipline and Luck) – Bagian 1
>> Disiplin dan Hoki (Discipline and Luck) – Bagian 2 – Pemasaran Mandiri: Produk yang Terbaik Menang

Share and Enjoy:
  • Print
  • email
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • StumbleUpon
  • Digg
  • del.icio.us
  • Yahoo! Bookmarks
  • LinkedIn
  • Twitter
  • MySpace
  • Blogosphere News
  • NewsVine
  • Yahoo! Buzz
  • Mixx
  • Live
  • RSS

posted in Uncategorized by admin

Follow comments via the RSS Feed | Leave a comment | Trackback URL

Leave Your Comment

 
Powered by Wordpress and MySQL. Theme by openark.org